Juru Makam Dilibatkan dalam Bunga Desa Kencong, Aspirasi Pengelola Makam Mulai Dibahas
- 23 September 2026
- Dibaca 12 Kali
Bagikan Via:
Juru Makam Dilibatkan dalam Bunga Desa Kencong, Aspirasi Pengelola Makam Mulai Dibahas
JEMBER, 23 SEPTEMBER 2026 — Persiapan pelaksanaan Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) di Kecamatan Kencong mulai memasuki tahap pemetaan peserta dan kelompok masyarakat yang akan dilibatkan. Salah satu unsur yang mendapat perhatian dalam koordinasi tersebut adalah juru makam atau juru kunci makam yang selama ini memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat kawasan pemakaman di desa.
Hal tersebut dibahas dalam rapat koordinasi persiapan Bunga Desa yang digelar Pemerintah Kecamatan Kencong di Aula Kecamatan Kencong, Rabu, 23 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, juru makam direncanakan menjadi salah satu kelompok yang diundang dalam sesi serap aspirasi, bersama marbot dan mudin. Keterlibatan tersebut dinilai penting karena juru makam merupakan bagian dari unsur masyarakat yang bersentuhan langsung dengan pengelolaan fasilitas sosial dan keagamaan di lingkungan desa.
Bagi juru makam, forum Bunga Desa diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk menyampaikan kondisi dan kebutuhan yang selama ini dihadapi dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Mulai dari perawatan lingkungan makam, kebersihan, akses menuju makam, hingga kebutuhan penunjang lainnya menjadi sejumlah persoalan yang dapat disampaikan melalui forum tersebut.
Camat Kencong Leon Lazuardy mengatakan, pendataan berbagai unsur masyarakat dilakukan agar pelaksanaan Bunga Desa dapat benar-benar melibatkan kelompok masyarakat di tingkat bawah.
“Kita ingin semua unsur masyarakat yang menjadi sasaran dapat terdata dengan baik. Termasuk juru makam, marbot dan mudin yang nantinya akan dilibatkan dalam sesi serap aspirasi,” ujar Leon.
Menurutnya, Bunga Desa bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang komunikasi langsung antara pemerintah dengan masyarakat.
“Setiap kelompok masyarakat tentu memiliki kebutuhan dan persoalan yang berbeda. Karena itu, ruang untuk menyampaikan aspirasi harus dibuka seluas-luasnya agar pemerintah dapat mengetahui kondisi yang ada di lapangan,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu isu yang muncul dalam koordinasi adalah mengenai insentif bagi juru makam.
Dalam rapat dijelaskan bahwa untuk saat ini juru makam belum masuk dalam daftar penerima tambahan insentif. Salah satu pertimbangannya adalah sebagian juru makam pada umumnya telah mendapatkan penghasilan melalui pengelolaan tanah bengkok yang berkaitan dengan desa.
Namun demikian, aspirasi mengenai kemungkinan adanya insentif khusus bagi juru makam masih terbuka untuk dibahas dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pada agenda tahun mendatang.
Dari perspektif juru makam, persoalan insentif bukan semata-mata berkaitan dengan besaran penghasilan. Perhatian terhadap keberadaan mereka juga diharapkan dapat menjadi bentuk penghargaan atas tugas sosial yang dilakukan secara rutin.
Juru makam selama ini tidak hanya bertugas ketika ada warga meninggal dunia. Dalam praktiknya, mereka juga ikut menjaga kebersihan, merawat lingkungan pemakaman serta memastikan kawasan makam tetap terpelihara.
Ketua Srikandi LSN Kencong Anik Indahwati menilai pelibatan juru makam dalam forum Bunga Desa merupakan bagian dari upaya menghadirkan aspirasi masyarakat secara lebih luas.
“Juru makam juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki peran sosial. Aspirasi mereka perlu didengar, sehingga apa yang menjadi kebutuhan di lapangan bisa menjadi bahan perhatian pemerintah,” ujar Anik.
Selain juru makam, rangkaian Bunga Desa di Kecamatan Kencong juga akan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari kelompok selawat kampung, UMKM, pedagang sayur keliling atau lijo, kelompok tani, ketua pengajian, karang taruna, kader Posyandu, hingga ketua RT dan RW.
Rangkaian kegiatan direncanakan mencakup selawat kampung, serap aspirasi tokoh masyarakat dan pemuda, bazar UMKM, serta pertemuan dengan kader kesehatan dan perangkat lingkungan.
Leon menegaskan, seluruh masukan yang muncul dalam proses koordinasi akan menjadi bahan untuk mematangkan pelaksanaan Bunga Desa.
“Kita persiapkan agar seluruh unsur masyarakat mendapatkan ruang untuk menyampaikan aspirasi. Termasuk juru makam yang memiliki tugas sosial di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Dengan dilibatkannya juru makam dalam sesi serap aspirasi, Bunga Desa diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertemunya pemerintah dengan tokoh masyarakat, tetapi juga mampu menjangkau kelompok-kelompok yang selama ini menjalankan tugas sosial secara langsung di lingkungan desa. (Gfr)