logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Dusun Baban Timur, BPBD Jember Lakukan Asesmen dan Siapkan Rekomendasi Distribusi Air

  • 01 Agustus 2026
  • Dibaca 14 Kali
Bagikan Via:
kemarau-picu-krisis-air-bersih-di-dusun-baban-timur-bpbd-jember-lakukan-asesmen-dan-siapkan-rekomendasi-distribusi-air-20260801

Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Dusun Baban Timur, BPBD Jember Lakukan Asesmen dan Siapkan Rekomendasi Distribusi Air

JEMBER, 01 AGUSTUS 2026 – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Jember mulai memberikan dampak serius terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah. Salah satunya terjadi di Dusun Baban Timur, RT 01 dan RT 02 RW 07, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, di mana puluhan kepala keluarga mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember melaksanakan asesmen lapangan pada Sabtu, 01 Agustus 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kondisi riil di lokasi terdampak sekaligus menyusun langkah penanganan yang tepat agar kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi.

Tim BPBD Kabupaten Jember berangkat menuju lokasi pada pukul 09.30 WIB dan tiba sekitar pukul 11.30 WIB. Setibanya di lokasi, tim langsung berkoordinasi dengan Desa Tangguh Bencana (Destana) Mulyorejo, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Selain melakukan pendataan, petugas juga melakukan pengecekan terhadap sejumlah sumur milik warga yang selama ini menjadi sumber utama air bersih.

Hasil asesmen menunjukkan bahwa sejak Juli 2026, warga Dusun Baban Timur mengalami kekeringan akibat menurunnya debit air tanah selama musim kemarau. Kondisi tersebut diperparah dengan belum tersedianya jaringan pipanisasi di wilayah RW 07 sehingga masyarakat sepenuhnya bergantung pada sumur gali dengan kedalaman sekitar 15 meter. Saat ini, hampir seluruh sumur tersebut telah mengering sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat.

Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer menuju sungai terdekat untuk mendapatkan air yang digunakan untuk mandi, mencuci, hingga sebagian kebutuhan konsumsi sehari-hari. Di sisi lain, masyarakat juga mulai bergantung pada bantuan distribusi air bersih yang disalurkan oleh Relawan BMSI Jember.

Berdasarkan hasil pendataan BPBD, jumlah warga yang terdampak mencapai 85 kepala keluarga, terdiri dari 45 kepala keluarga di RT 01 RW 07 dan 40 kepala keluarga di RT 02 RW 07. Melihat kondisi tersebut, masyarakat berharap adanya bantuan berkelanjutan dari pemerintah berupa distribusi air bersih hingga kondisi kembali normal.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Desa Mulyorejo akan mengirimkan surat permohonan bantuan kepada BPBD Kabupaten Jember. Selain itu, desa juga menyiapkan empat titik penempatan tandon air di lokasi strategis agar proses distribusi air dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau seluruh warga terdampak.

BPBD Kabupaten Jember juga memberikan sejumlah rekomendasi penanganan, yakni mendistribusikan air bersih dengan kapasitas 5.000 liter setiap dua hari sekali, mendukung penyediaan pangkon atau dudukan tandon oleh pemerintah desa, serta mendistribusikan tiga unit tandon air berkapasitas 1.200 liter guna memperkuat layanan distribusi di wilayah terdampak.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember, Firman Arif, menyampaikan bahwa kondisi kekeringan yang dialami masyarakat membutuhkan perhatian segera agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

"Hasil asesmen menunjukkan sebagian besar sumur warga sudah mengering sehingga kebutuhan air bersih menjadi persoalan utama. Masyarakat saat ini mengandalkan bantuan distribusi air bersih dan sebagian masih harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer menuju sungai. Karena itu, kami merekomendasikan distribusi air bersih secara berkala serta penambahan tandon agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi selama musim kemarau berlangsung," ujarnya.

Melalui asesmen ini, BPBD Kabupaten Jember berharap langkah penanganan dapat segera direalisasikan melalui sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu memastikan ketersediaan air bersih bagi warga terdampak sekaligus meminimalkan risiko kesehatan dan dampak sosial yang ditimbulkan akibat kekeringan berkepanjangan. (bob)

Galeri Foto