Ngarak Si Kopek, Cara Desa Biting Merawat Warisan Budaya dan Jati Diri Generasi Muda
- 14 September 2026
- Dibaca 54 Kali
Bagikan Via:
Ngarak Si Kopek, Cara Desa Biting Merawat Warisan Budaya dan Jati Diri Generasi Muda
JEMBER, 14 SEPTEMBER 2026 — Upaya merawat warisan budaya lokal terus dilakukan Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Salah satunya melalui Festival Arak-arakan “Ngarak Si Kopek” yang digelar pada Sabtu, 12 September 2026.
Festival tersebut menjadi ruang untuk menghidupkan kembali cerita tutur dan mitologi yang berkembang di tengah masyarakat sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Desa Biting kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Ngarak Si Kopek tidak sekadar menghadirkan arak-arakan sebagai pertunjukan. Di balik kemeriahannya, festival ini membawa pesan tentang pentingnya menjaga cerita, sejarah, identitas, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Upaya tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat. Kemajuan desa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat dalam mempertahankan akar budaya dan jati dirinya.
Camat Arjasa, R.B. Abdul Kadir, S.IP., M.M., mengapresiasi langkah Desa Biting yang terus mengangkat kekayaan budaya lokal melalui kegiatan tersebut.
“Festival Ngarak Si Kopek ini bukan hanya tentang arak-arakan, tetapi bagaimana kita kembali mengingat cerita, sejarah, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenal perkembangan zaman, tetapi juga tahu dari mana mereka berasal dan apa yang menjadi jati diri desanya,” ujar Abdul Kadir.
Menurutnya, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan kemajuan masyarakat. Tradisi tidak harus ditinggalkan ketika memasuki era modern, tetapi dapat dikemas secara kreatif agar tetap relevan, dikenal, dan diminati oleh generasi muda.
Pandangan serupa disampaikan Pembina Sanggar Umah Wetan, Abdurrasyid atau Cak Cid. Menurutnya, cerita tutur dan mitologi lokal merupakan bagian dari kekayaan pengetahuan masyarakat yang perlu terus diwariskan.
“Cerita-cerita yang ada di Biting ini jangan sampai berhenti hanya pada generasi terdahulu. Ngarak Si Kopek menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali cerita tutur dan mitologi kepada anak-anak muda, supaya mereka tahu bahwa desanya memiliki sejarah, memiliki cerita, dan memiliki kearifan lokal yang sangat berharga,” ungkap Cak Cid.
Ia berharap Ngarak Si Kopek tidak berhenti sebagai perhelatan tahunan, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk semakin mengenal, mencintai, mempelajari, sekaligus mengembangkan kebudayaan lokal.
Melalui Ngarak Si Kopek, Desa Biting menunjukkan bahwa pelestarian tradisi bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, warisan masa lalu dapat menjadi sumber identitas dan pijakan bagi masyarakat untuk menatap masa depan.
Biting boleh terus tumbuh dan berkembang mengikuti zaman. Namun, jati diri serta warisan leluhur tetap perlu dijaga agar terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (aza)