Perkuat Program Homecare, 60 Nakes Rambipuji Dibekali Pemahaman Agar Tak Ada Warga Rentan Terlewat
- 01 September 2026
- Dibaca 95 Kali
Bagikan Via:
Perkuat Program Homecare, 60 Nakes Rambipuji Dibekali Pemahaman Agar Tak Ada Warga Rentan Terlewat
JEMBER, 01 SEPTEMBER 2026 – Pelayanan kesehatan idealnya tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan (faskes). Bagi warga yang memiliki keterbatasan fisik maupun ekonomi, tenaga kesehatan (nakes) justru dituntut hadir secara proaktif menyapa dan merawat mereka di rumah.
Semangat pelayanan "jemput bola" tersebut kembali diperkuat melalui agenda Sosialisasi Pemahaman Homecare yang digelar di Pendopo Kecamatan Rambipuji, Selasa 01 September 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menyamakan persepsi nakes agar pelaksanaan program di lapangan benar-benar tepat sasaran.
Sebanyak 60 nakes dari Puskesmas Rambipuji dan Puskesmas Nogosari mengikuti sosialisasi tersebut. Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Camat Rambipuji Roni Herman Baza, A.P., Kepala Puskesmas Rambipuji dr. Dina Nurul Agustina, serta Kepala Puskesmas Nogosari dr. Amafira Yuniar.
Camat Rambipuji, Roni Herman Baza, menekankan pentingnya kepekaan seluruh elemen masyarakat dan nakes terhadap kondisi warga di sekitarnya. Menurutnya, manfaat keberadaan program Homecare harus benar-benar dirasakan langsung oleh warga yang memiliki keterbatasan akses.
"Pendekatan kita adalah jemput bola. Tenaga kesehatan tidak sekadar menunggu pasien di dalam gedung, tetapi turun langsung mendatangi warga yang masuk kategori sasaran dan benar-benar membutuhkan," tegas Roni.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Puskesmas Rambipuji, dr. Dina Nurul Agustina, menjelaskan bahwa ketepatan sasaran menjadi kunci utama efektivitas program ini. Ia memaparkan ada enam kelompok utama yang menjadi prioritas Homecare, mulai dari lansia tunggal, penyandang disabilitas dengan penyakit khusus, anak stunting di bawah dua tahun, ibu hamil berisiko tinggi, warga kurang mampu penderita penyakit kronis, hingga tokoh agama.
"Kami ingin memastikan intervensi medis sampai ke pintu rumah mereka. Untuk anak stunting dan ibu hamil risiko tinggi, misalnya, pemantauan berkala secara langsung sangat menentukan pencegahan komplikasi kesehatan sejak dini," katanya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Nogosari, dr. Amafira Yuniar, mengingatkan bahwa penanganan di lapangan membutuhkan sinergi dan penguatan pemahaman bagi para nakes. Sebaik apa pun program dirancang, keberhasilannya amat bergantung pada eksekusi para nakes yang bersentuhan langsung dengan warga.
"Program yang didanai APBD ini bukan sekadar rutinitas medis, melainkan wujud kepedulian. Kami berharap nakes dari Rambipuji maupun Nogosari makin mantap memahami mekanisme pelayanannya agar tidak ada warga rentan yang terlewat," ujarnya.
Guna mendukung kelancaran program, masyarakat juga diimbau aktif menjadi "mata dan telinga" pemerintah. Apabila menemukan warga rentan yang membutuhkan kunjungan medis di lingkungannya, masyarakat dapat melapor melalui kanal pengaduan resmi Wadul Gus-e di nomor 0811-3031-1188.
Melalui sosialisasi dan sinergi ini, Pemkab Jember berharap warga yang berjuang dengan keterbatasan fisik maupun ekonomi tidak merasa sendirian. Sebab, ketika warga tidak mampu datang mencari pelayanan kesehatan, maka layanan kesehatanlah yang harus hadir menemukan warga. (sai)