Produksi Cabai Jember Sudah Kuat, Tantangannya Kini Menjaga Nilai Panen Petani
- 02 September 2026
- Dibaca 23 Kali
Bagikan Via:
Produksi Cabai Jember Sudah Kuat, Tantangannya Kini Menjaga Nilai Panen Petani
JEMBER, 02 SEPTEMBER 2026 — Produksi cabai di Jember terus berjalan dengan dukungan lahan dan produktivitas yang cukup baik. Namun, hasil panen yang melimpah masih menyisakan tantangan lain, yakni bagaimana menjaga agar hasil yang sudah dipanen tetap memiliki nilai ekonomi bagi petani.
Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam survei lapangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di bangsal pascapanen Kelompok Tani Margo Makmur 1, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Selasa, 01 September 2026. Survei dilakukan oleh Tupan, Rahmat Hidayat, dan Harris Taruna Nugroho dari BRIN sebagai bahan penyusunan naskah kebijakan strategi pemenuhan kebutuhan cabai melalui substitusi impor.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P., mengatakan kemampuan produksi cabai di Jember sebenarnya sudah cukup kuat. Ketersediaan lahan, produktivitas, hingga pendampingan petani menjadi modal untuk menjaga produksi tetap berjalan.
“Produksi sebenarnya tidak perlu kita khawatirkan. Produktivitas sudah bagus, lahannya juga ada. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana petani mendapatkan hasil maksimal dari apa yang sudah mereka tanam dan kerjakan,” ujarnya saat mendampingi survei BRIN.
Persoalan nilai hasil panen kemudian tidak terlepas dari kondisi harga di sepanjang rantai pemasaran. Dalam kondisi tertentu, harga cabai di pasar dapat berada di kisaran Rp20.000 per kilogram, sementara petani menerima sekitar Rp8.000 per kilogram. Ketika pasokan meningkat, tekanan terhadap harga di tingkat petani pun semakin terasa.
Situasi tersebut membuat pengaturan waktu tanam menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Namun, strategi mengejar periode harga tinggi tidak selalu mudah diterapkan. Kondisi wilayah Ambulu dan risiko banjir membuat pola tanam perlu menyesuaikan keadaan di lapangan. Artinya, upaya menjaga pendapatan petani tidak cukup hanya dilakukan sebelum panen, tetapi juga perlu diperkuat setelah cabai dipanen.
Di titik inilah penanganan pascapanen menjadi penting. Cabai yang tidak terserap sebagai produk segar dapat diarahkan untuk diolah menjadi cabai kering, bubuk cabai, sambal, atau minyak cabai. Selain memperpanjang masa simpan, pengolahan tersebut dapat menjadi alternatif untuk mempertahankan nilai cabai ketika harga produk segar sedang rendah.
“Yang paling penting itu sebenarnya penguatan pascapanen dulu. Kalau pascapanennya bisa diselesaikan, pemasaran juga bisa diperbaiki, termasuk bagaimana menjaga harga dan distribusinya,” kata Tupan, salah satu perwakilan BRIN.
Upaya mempertahankan nilai cabai melalui pengolahan tersebut sudah mulai dilakukan di tingkat kelompok tani. Salah satunya terlihat pada KWT Larasati di bawah Kelompok Tani Margo Makmur. Kelompok ini telah mengolah cabai menjadi sejumlah produk, termasuk sambal kemasan dan minyak cabai.
Meski demikian, pengolahan saja belum cukup untuk memastikan produk dapat berkembang secara berkelanjutan. Kemampuan produksi perlu berjalan beriringan dengan kesiapan pemasaran, legalitas, kualitas produk, serta penggunaan teknologi yang sesuai dengan kemampuan kelompok.
“Kelompok harus terlebih dahulu memenuhi perizinan produknya, terutama produk olahan. Kemudian masa simpannya juga harus ditentukan dengan baik agar aman untuk dikonsumsi,” ujar Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Distribusi Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember, Asfita Dewi, S.E., M.M.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa penguatan komoditas cabai perlu dilihat sebagai satu rangkaian yang saling berkaitan, mulai dari produksi, penanganan pascapanen, pengolahan hingga pemasaran. Karena itu, survei BRIN juga menghimpun masukan dari Dinas TPHP melalui Bidang Hortikultura serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember.
Masukan dari berbagai pihak tersebut selanjutnya menjadi bahan dalam penyusunan rekomendasi kebijakan. Harapannya, penguatan cabai tidak hanya mampu menjaga ketersediaan produksi untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memastikan hasil usaha petani tetap memiliki nilai dan daya saing hingga sampai ke pasar. (fan)