Seni Tari Tetap Hidup di Tengah Generasi Digital, 24 Tim Ramaikan Festival Anak Jember
- 02 Agustus 2026
- Dibaca 12 Kali
Bagikan Via:
Seni Tari Tetap Hidup di Tengah Generasi Digital, 24 Tim Ramaikan Festival Anak Jember
JEMBER, 02 AGUSTUS 2026 – Seni tari tak lekang oleh perkembangan zaman. Di tengah gempuran budaya digital dan hiburan instan yang identik dengan generasi Z, anak-anak Kabupaten Jember justru menunjukkan bahwa gerak dan ekspresi tubuh masih menjadi medium yang relevan untuk berkarya dan menyuarakan gagasan.
Hal ini terlihat dalam gelaran Lomba Tari Kreasi yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Anak Jember Tahun 2026, yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Sabtu 01 Agustus 2026.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai peringatan Hari Anak Nasional 2026, diinisiasi oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Jember bersama Forum Anak Jember. Sebanyak 24 tim tari beserta pendamping ambil bagian dalam penilaian tersebut, menampilkan kreasi gerak yang memadukan unsur tradisional dengan sentuhan kontemporer khas anak muda masa kini.
Ketua Pelaksana Axelle Indrawan menyampaikan bahwa Festival Anak Jember hadir sebagai wadah bagi anak-anak untuk menyalurkan bakat, kreativitas, dan potensi yang dimiliki. Ia menyebutkan bahwa tahun ini Festival Anak Jember diikuti oleh 188 peserta, khususnya pada cabang Lomba Tari Kreasi.
"Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan generasi anak Jember yang kreatif, berprestasi, berkarakter, dan berani menyuarakan aspirasinya," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinsos PPPA, Sri Rahayu Wilujeng, S.E., M.M, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, melainkan juga tumbuh melalui kegiatan seni dan budaya.
"Momentum Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, merasa aman di lingkungan sekolah, mengembangkan bakat dan minatnya, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang positif," ucapnya.
Penilaian lomba tari kreasi ini melibatkan tiga dewan juri berpengalaman di bidang seni tari. Ninien Ariesitta, pengelola Sanggar Tari Hastarini Jember yang berdiri sejak 1980. Juri kedua, Fera Nurlaily Idayanti, merupakan pendidik seni budaya sekaligus koreografer dan owner Sanggar Tari Cemara Biru. Sementara itu, Ilmaniar Fitriani Dewi, ASN di Dinsos PPPA, turut dilibatkan sebagai juri berkat rekam jejaknya sebagai pegiat seni.
Dwi Salsabila Sava Arabela, selaku pendamping tim tari Danirmala dari FAD Sukoreno, memberikan apresiasi positif terhadap penyelenggaraan lomba tari tersebut. "Persiapan yang kami lakukan cukup matang, mulai dari menentukan tarian, latihan rutin setiap hari setelah pulang sekolah, hingga penyiapan kostum. Kebetulan, FAD Sukoreno memakai baju tari asli yang didatangkan langsung dari Banyuwangi,” ucapnya. (rou)