logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Teknologi Combine Adaptif Jadi Solusi Panen di Sawah Berlumpur

  • 08 Mei 2026
  • Dibaca 164 Kali
Bagikan Via:
teknologi-combine-adaptif-jadi-solusi-panen-di-sawah-berlumpur-20260509

Teknologi Combine Adaptif Jadi Solusi Panen di Sawah Berlumpur

JEMBER, 08 MEI 2026 - Lahan sawah berlumpur masih menjadi tantangan tersendiri dalam penggunaan alat dan mesin pertanian modern. Tidak sedikit combine harvester mengalami kendala saat beroperasi di medan berat, mulai dari roda yang terjebak lumpur hingga penurunan performa mesin saat panen berlangsung. Kondisi inilah yang mendorong pentingnya pengembangan teknologi alsintan yang lebih adaptif terhadap karakter lahan pertanian di Indonesia.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan combine harvester yang digelar Bidang Sarana Prasarana dan Penyuluh Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember bersama kelompok tani. Kegiatan yang dipimpin Misnari, S.P., selaku Pengawas Alat dan Mesin Pertanian beserta tim itu turut menghadirkan pengenalan teknologi combine harvester Ishoku Lovol DW102 Plus.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari cara pengoperasian alat, tetapi juga dikenalkan pada sejumlah inovasi teknis yang dirancang khusus untuk menghadapi kondisi sawah ekstrem.

Narasumber dari pihak Ishoku, Muhammad Islahul Umam menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama unit combine tersebut terletak pada modifikasi sasis yang berfungsi sebagai pemecah lumpur. Teknologi ini dirancang untuk meminimalkan risiko alat terjebak saat digunakan di lahan sawah dengan kondisi tanah berat.

“Nah di mesin kita itu sasisnya sudah dimodifikasi dengan pemecah lumpur. Jadi lumpur lewat enggak bakal garuk,” jelasnya.

Selain itu, combine harvester Ishoku Lovol DW102 Plus juga dibekali tenaga mesin 100 HP dengan sistem empat silinder turbocharged pendingin air. Mesin tersebut mampu bekerja dengan efisiensi sekitar 0,5 hingga 0,8 hektare per jam sehingga dinilai cukup mendukung percepatan proses panen di lapangan.

Dari sisi konstruksi, roller pada unit combine juga dirancang lebih merata dibanding beberapa tipe lainnya. Desain tersebut diklaim mampu meningkatkan daya tahan roller saat digunakan secara intensif di area persawahan yang tidak rata maupun berlumpur.

Tidak hanya itu, sistem transmisi HST pada combine ini menggunakan teknologi asal Jepang berkapasitas 56 cc. Kapasitas tersebut disebut lebih besar sehingga mendukung tenaga dan kestabilan alat ketika beroperasi di medan yang sulit.

Perkembangan teknologi alsintan seperti ini menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak hanya berbicara tentang percepatan panen, tetapi juga kemampuan alat dalam menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang beragam. Adaptasi teknologi menjadi penting karena karakter lahan pertanian di Indonesia memiliki tantangan yang berbeda di setiap wilayah.

Melalui kegiatan pelatihan tersebut, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember juga mendorong petani agar semakin memahami perkembangan teknologi pertanian modern, termasuk mengenali keunggulan dan fungsi teknis alsintan yang digunakan di lapangan.

Dengan dukungan teknologi yang semakin adaptif, proses panen diharapkan dapat berjalan lebih efisien, mengurangi hambatan operasional di sawah, sekaligus mendukung produktivitas pertanian yang lebih optimal. (fan)

Galeri Foto