logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak

UPTD Liposos Hadirkan Pendampingan Psikologis untuk Pasien ODGJ: Langkah Kecil, Harapan Besar

  • 20 Mei 2026
  • Dibaca 117 Kali
Bagikan Via:
uptd-liposos-hadirkan-pendampingan-psikologis-untuk-pasien-odgj-langkah-kecil-harapan-besar-20260521

UPTD Liposos Hadirkan Pendampingan Psikologis untuk Pasien ODGJ: Langkah Kecil, Harapan Besar

JEMBER, 20 MEI 2026 - Di balik keterbatasan sumber daya, UPTD Lembaga Perlindungan Sosial (Liposos) di Jalan Tawes ini terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para penghuninya. Saat ini, lembaga tersebut menampung sekitar 50 orang, terdiri dari lansia sebatang kara dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), namun hanya ditopang oleh 7 petugas aktif dalam operasional sehari-hari, sebuah rasio yang jauh dari ideal.

Kepala UPTD Liposos, Roni Efendi, S.STP, mengakui kondisi tersebut secara terbuka. Dengan keterbatasan sumber daya namun petugas tetap memberikan pelayanan terbaik dengan penuh semangat dalam memberikan layanan komprehensif, termasuk di bidang kesehatan jiwa.

“Relaksasi dan konseling rutin kami lakukan setiap hari setelah perawatan klien. Adapun tujuannya adalah sebagai asesmen awal untuk menggali informasi apakah yang bersangkutan masih memiliki sanak keluarga. Tentu butuh kesabaran karena Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) biasanya sudah lupa dengan alamat serta asal-usulnya. Dan itu merupakan upaya kita untuk memanusiakan manusia,” ungkap Roni, Selasa 19 Mei 2026.

Penanganan psikologis bagi pasien ODGJ di Liposos sebenarnya bukan hal baru. Beberapa waktu lalu, lembaga ini pernah menjalin kerja sama pendampingan psikologis khusus bagi pasien ODGJ. Namun, program tersebut terhenti sebelum bisa memberikan dampak jangka panjang yang diharapkan.

Kini, Dinas Sosial PPPA Jember menugaskan dua sarjana psikologi untuk mengisi kekosongan tersebut. Mereka adalah Ismalasari Annisa Nurwulan, S.Psi. dan Errin Rizky Caesarina, S.Psi., keduanya bertugas di Penata Kelola Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Pada hari pertama penugasan, Ismalasari Annisa Nurwulan, yang akrab disapa Wulan, langsung mengambil langkah terukur. Alih-alih langsung berinteraksi dengan pasien, ia dan rekannya terlebih dahulu melakukan observasi menyeluruh terhadap para pendamping yang bertugas di lapangan. "Kami lakukan observasi terlebih dahulu kepada para pendamping yang bertugas, untuk memilah klien-klien berdasarkan kondisi kesehatannya," ungkap Wulan.

Pada tahap awal untuk pasien ODGJ, penanganan yang dilakukan lebih berfokus pada pendekatan melalui obrolan santai, sementara konseling belum bisa dilaksanakan mengingat kondisi klien saat ini belum stabil dan masih berada di ruang isolasi. Hal ini dikarenakan idealnya tahap pertama penanganan harus mengutamakan pengobatan medis terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan dengan pendampingan psikologi pada tahap kedua.

“Hari ini mau kenalan sama senam tepuk lansia bagi klien yang sudah bisa diajak interaksi. Dan untuk jangka waktu dekat, kita fokus dulu ke donasi pakaian yang sangat kekurangan dan ketersediaan obat-obatan,” ungkap Errin.

Bagi Roni Efendi, kehadiran dua pendamping ini bukan sekadar tambahan tenaga, melainkan angin harapan yang dinantikan. Ia meyakini bahwa pendampingan psikologi yang tepat akan membawa perubahan nyata bagi kehidupan para klien ODGJ di bawah asuhannya. "Dengan penambahan pendamping untuk psikologi ini sangat membantu untuk kebaikan klien ODGJ," ujarnya.

Kehadiran layanan psikologis di Liposos menjadi pengingat bahwa penanganan ODGJ tidak bisa berhenti pada kebutuhan fisik semata. Pendampingan mental dan emosional adalah bagian tak terpisahkan dari proses pemulihan, dan langkah kecil yang kini diharapkan menjadi fondasi program yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa mendatang. (rou)

Galeri Foto