BPBD Jember Perkuat Budaya Siaga Bencana di Sekolah melalui Pendampingan SPAB 2026
- 01 Juli 2026
- Dibaca 2 Kali
Bagikan Via:
BPBD Jember Perkuat Budaya Siaga Bencana di Sekolah melalui Pendampingan SPAB 2026
Jember – Upaya membangun budaya sadar bencana sejak dini terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Jember melalui kegiatan Pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2026. Kegiatan yang digelar di SMP Negeri 2 Panti, Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, Selasa 30 Juni 2026, menjadi bagian dari implementasi program nasional dalam meningkatkan kapasitas satuan pendidikan menghadapi potensi bencana.
Program tersebut diselenggarakan berdasarkan Surat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur Nomor 1056/B/C6.4/RT.01.02/2026 tentang Pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2026.
Sebanyak 16 guru dari berbagai jenjang pendidikan mengikuti kegiatan tersebut. Peserta berasal dari SMA, SMP, SD hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Jember. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai penguatan kapasitas pendidikan kebencanaan yang dapat diimplementasikan langsung di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Arief Tyahyono, S.E., dalam arahannya menegaskan bahwa pendidikan kebencanaan tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus dibangun melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kondisi lingkungan sekitar.
Menurutnya, pembelajaran berbasis alam serta penguatan nilai-nilai kearifan lokal menjadi salah satu strategi penting dalam membentuk karakter peserta didik agar lebih tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Kabupaten Jember.
Rangkaian materi dimulai dengan pemaparan dari Dwi Kartika Setyowati, M.Pd., Gr., Fasilitator SPAB Malang, mengenai implementasi integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam proses pembelajaran. Dalam paparannya dijelaskan bahwa pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membantu guru menyusun materi SPAB secara lebih kreatif, efektif, dan mudah dipahami siswa.
Selain itu, materi pendidikan kebencanaan dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran tanpa harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Dwi juga menekankan pentingnya memasukkan unsur kearifan lokal sebagai bagian dari materi pembelajaran serta penyediaan rambu-rambu jalur evakuasi yang ramah bagi seluruh peserta didik, termasuk di sekolah luar biasa.
Selanjutnya, Yan Aditya Putra, Fasilitator SPAB Mojokerto, menyampaikan materi mengenai manajemen kedaruratan sekolah. Ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan aplikasi InaRISK sebagai media untuk mengenali potensi ancaman bencana di sekitar lingkungan sekolah. Selain itu, sekolah didorong menyusun peta jalur evakuasi, menerapkan rekayasa evakuasi yang inklusif, melakukan standarisasi rambu-rambu keselamatan, hingga menyusun strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang disesuaikan dengan karakteristik psikologis peserta didik.
Materi berikutnya disampaikan oleh M. Miftachul Munir, S.T. mengenai transformasi prosedur menjadi perilaku dalam penanganan kedaruratan. Ia menjelaskan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup diwujudkan dalam dokumen prosedur tetap semata, tetapi harus dibangun melalui latihan yang berkelanjutan. Simulasi kebencanaan mulai dari gladi ruang, gladi posko hingga gladi lapang dinilai menjadi tahapan penting agar seluruh warga sekolah memahami tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.
Sebagai penutup, Betty Sri Witjayanti, S.Psi., M.Si., dari BBPMP Provinsi Jawa Timur memandu penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai komitmen setiap sekolah dalam mengimplementasikan hasil pendampingan SPAB secara berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.40 WIB hingga 18.00 WIB tersebut melibatkan BPBD Kabupaten Jember, Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, BBPMP Provinsi Jawa Timur, para fasilitator SPAB, serta perwakilan sejumlah sekolah dari berbagai jenjang di Kabupaten Jember.
Anggota BPBD Kabupaten Jember, Silvi Yustitia Eka Pratiwi, S.T., menjelaskan bahwa pendampingan SPAB merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas satuan pendidikan dalam membangun budaya aman bencana secara berkelanjutan.
"Melalui pendampingan ini kami berharap setiap satuan pendidikan tidak hanya memiliki dokumen kesiapsiagaan, tetapi juga mampu menerapkan budaya aman bencana dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari. Integrasi pendidikan kebencanaan, penyusunan prosedur tetap, simulasi berkala, hingga penguatan kolaborasi antarinstansi menjadi fondasi penting dalam menciptakan sekolah yang tangguh terhadap bencana," ujar Silvi Yustitia Eka Pratiwi.
Ia menambahkan, keberhasilan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana sangat bergantung pada komitmen seluruh unsur sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, peserta didik hingga masyarakat sekitar. Dengan demikian, kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi menjadi budaya yang tumbuh dan diterapkan secara berkesinambungan di lingkungan pendidikan. (Bob)