Pendidikan Jadi Senjata Lawan Kemiskinan, Pesan Kuat Bupati Fawait di Hardiknas 2026
- 03 Mei 2026
- Dibaca 223 Kali
Bagikan Via:
Pendidikan Jadi Senjata Lawan Kemiskinan, Pesan Kuat Bupati Fawait di Hardiknas 2026
JEMBER, 03 MEI 2026 - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 di Kabupaten Jember tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Bertempat di Aula Wahyabiwagraha, momentum ini justru dimanfaatkan sebagai ruang refleksi mendalam terhadap arah pembangunan pendidikan daerah, sekaligus sebagai panggung penegasan komitmen pemerintah dalam menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama pengentasan kemiskinan.
Berbeda dari tradisi sebelumnya, peringatan Hardiknas tahun ini tidak digelar secara terpusat di alun-alun. Pemerintah Kabupaten Jember melalui kebijakan Bupati memilih pelaksanaan upacara di masing-masing satuan pendidikan. Kebijakan ini bukan hanya soal teknis pelaksanaan, tetapi juga mencerminkan semangat pemerataan dan penguatan peran sekolah sebagai pusat peradaban pendidikan.
Dalam pidatonya, Bupati Jember, Muhammad Fawait, S.E., M.Sc. atau Gus Fawait, menyampaikan pesan utama yang menjadi benang merah seluruh arah kebijakan pendidikan di Jember: pendidikan harus menjadi alat paling efektif untuk memerangi kemiskinan.
Menurutnya, selama ini berbagai kebijakan penanganan kemiskinan belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan. Bantuan sosial, program ekonomi, hingga intervensi sektoral sering kali tidak tepat sasaran karena lemahnya basis data serta kurangnya pendekatan holistik.
Dalam konteks tersebut, pendidikan dipandang sebagai solusi jangka panjang yang mampu memutus rantai kemiskinan secara berkelanjutan.
“Kalau kita ingin menyelesaikan kemiskinan secara fundamental, maka jawabannya adalah pendidikan. Bukan sekadar akses, tetapi kualitas dan keterlibatan semua pihak,” tegasnya.
Gus Fawait menekankan bahwa pendidikan tidak boleh dipahami secara sempit sebagai aktivitas di ruang kelas semata. Pendidikan adalah ekosistem yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat secara luas. Ketika salah satu komponen ini tidak berfungsi optimal, maka proses pendidikan akan kehilangan daya transformasinya.
Gus Fawait menyoroti bahwa salah satu persoalan mendasar di Jember adalah lemahnya keterlibatan keluarga dalam proses pendidikan anak. Banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, tanpa memberikan keteladanan di rumah. Padahal, menurutnya, pendidikan karakter justru lebih banyak terbentuk dalam lingkungan keluarga.
“Sekolah hanya beberapa jam, tetapi rumah adalah sepanjang waktu. Kalau keluarga tidak menjadi teladan, maka pendidikan akan timpang,” ujarnya.
Lebih jauh, Gus Fawait menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan membentuk karakter, etos kerja, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal utama bagi generasi muda untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak hanya dituntut sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur teladan. Di era digital dan media sosial, perilaku guru tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan dapat diamati oleh siswa kapan saja dan di mana saja.
“Anak-anak sekarang melihat gurunya bukan hanya di sekolah, tetapi juga di media sosial. Apa yang dilakukan guru di luar kelas juga menjadi pelajaran bagi mereka,” jelasnya.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa profesi guru mengandung tanggung jawab moral yang besar. Keteladanan menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan dan pengaruh positif terhadap peserta didik.
Selain aspek pendidikan, Gus Fawait juga menyinggung pentingnya validitas data dalam penanganan kemiskinan. Ia secara tegas meminta seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk turun langsung ke lapangan melakukan verifikasi dan validasi (verfal) data kemiskinan.
Langkah ini dinilai penting karena selama ini banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran akibat data yang tidak akurat. Dengan keterlibatan langsung ASN, diharapkan data yang dihasilkan lebih valid dan dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih efektif.
“Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan data yang salah. ASN harus hadir, melihat langsung, dan memastikan bahwa data kemiskinan benar-benar sesuai kondisi di lapangan,” tegasnya.
Kebijakan ini sekaligus menunjukkan pendekatan baru dalam tata kelola pemerintahan di Jember, yang lebih partisipatif dan berbasis data. ASN tidak hanya berperan sebagai pelaksana administrasi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang terlibat langsung dalam penyelesaian masalah sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait juga memaparkan sejumlah capaian pemerintah daerah, termasuk komitmen untuk tetap menjaga kesejahteraan ASN di tengah tekanan efisiensi anggaran. Ia menyebut bahwa Pemkab Jember menjadi salah satu daerah yang tidak mengurangi tunjangan kinerja (tukin) maupun tambahan penghasilan pegawai (TPP).
Kebijakan ini diambil sebagai bentuk penghargaan terhadap kinerja ASN sekaligus untuk menjaga motivasi dalam menjalankan tugas pelayanan publik, termasuk dalam sektor pendidikan dan penanganan kemiskinan.
Selain itu, pemerintah daerah juga memastikan kejelasan status bagi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) serta tenaga paruh waktu. Kepastian ini diharapkan dapat menciptakan stabilitas dan meningkatkan profesionalisme aparatur.
Namun demikian, Gus Fawait menegaskan bahwa berbagai kebijakan tersebut harus diimbangi dengan kinerja nyata. Ia meminta seluruh ASN untuk menunjukkan dedikasi dan kontribusi konkret, terutama dalam mendukung program pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan.
Menutup sambutannya, ia menegaskan bahwa Hardiknas harus menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar peringatan rutin. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan pendidikan sebagai gerakan bersama dalam membangun masa depan Jember yang lebih sejahtera.
“Kalau pendidikan kita kuat, maka kemiskinan akan runtuh dengan sendirinya. Ini bukan pekerjaan satu pihak, tetapi tanggung jawab kita semua,” pungkasnya. (sh)