BPBD Jember Perkuat Budaya Sadar Bencana di SMP Katolik Maria Fatima Melalui Program SPAB
- 01 Agustus 2026
- Dibaca 125 Kali
Bagikan Via:
BPBD Jember Perkuat Budaya Sadar Bencana di SMP Katolik Maria Fatima Melalui Program SPAB
JEMBER, 01 AGUSTUS 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember terus memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Selama dua hari, Kamis-Jumat 30-31 Juli 2026, BPBD Jember memberikan sosialisasi, penguatan kapasitas, serta simulasi penanggulangan bencana kepada sekitar 400 siswa dan dewan guru di SMP Katolik Maria Fatima, Kecamatan Kaliwates.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut atas permohonan sosialisasi dan simulasi SPAB dari pihak sekolah. Rangkaian kegiatan berlangsung secara bertahap, mulai dari penyampaian materi kebencanaan kepada siswa, pembekalan kepada guru, gladi ruang dan gladi posko, hingga simulasi gempa bumi yang melibatkan seluruh warga sekolah beserta unsur pendukung.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jember, Maryani, S.Kom., M.M., mengatakan bahwa Program SPAB bertujuan membangun kesiapsiagaan sejak dini sehingga sekolah memiliki kemampuan menghadapi berbagai potensi bencana secara mandiri dan terencana.
"Melalui SPAB, kami ingin membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. Tidak hanya siswa yang memahami langkah penyelamatan diri, tetapi guru juga dibekali kemampuan menyusun sistem kesiapsiagaan, memahami implementasi SPAB, prinsip GEDSI, hingga keterampilan Pertolongan Pertama Gawat Darurat sebagai bagian dari penanganan kondisi darurat di sekolah," ujar Maryani.
Pada hari pertama, para siswa menerima materi mengenai dasar-dasar kebencanaan, potensi ancaman bencana di lingkungan sekolah, tata cara penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi, serta pentingnya menyiapkan Tas Siaga Bencana sebagai perlengkapan darurat. Secara bersamaan, Tim Siaga Bencana Sekolah melaksanakan gladi ruang dan gladi posko untuk mematangkan mekanisme evakuasi.
Sementara itu, sesi khusus bagi dewan guru diisi dengan materi pengenalan Program SPAB, 10 Langkah Implementasi SPAB, penerapan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), serta pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang disampaikan bersama Puskesmas Jember Kidul.
Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat, 31 Juli 2026, melalui simulasi gempa bumi yang diawali briefing dan gladi bersih. Simulasi melibatkan Tim Siaga Bencana Sekolah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tenaga kesehatan dari Puskesmas Jember Kidul, serta seluruh siswa dan guru. Dalam simulasi tersebut, peserta mempraktikkan prosedur evakuasi, koordinasi antarunsur, hingga penanganan korban sesuai peran masing-masing.
Maryani menegaskan, simulasi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan karena memberikan pengalaman nyata kepada warga sekolah mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
"Harapan kami, setiap sekolah tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkan prosedur penyelamatan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Dengan demikian, risiko korban saat terjadi bencana dapat ditekan semaksimal mungkin," katanya.
BPBD Jember berharap Program SPAB terus diperluas ke berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Jember sebagai upaya menciptakan sekolah yang aman, tangguh, dan siap menghadapi potensi bencana, sekaligus mendukung terbentuknya masyarakat yang memiliki budaya kesiapsiagaan sejak usia dini. (tgh)