Semangat Pelestarian Budaya dalam Persiapan FLS3N Tari Tradisional SMPN 1 Rambipuji
- 20 Mei 2026
- Dibaca 116 Kali
Bagikan Via:
Semangat Pelestarian Budaya dalam Persiapan FLS3N Tari Tradisional SMPN 1 Rambipuji
JEMBER, 20 MEI 2026 – Semangat pelestarian budaya lokal terus ditunjukkan oleh para pelajar Kabupaten Jember melalui ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tahun 2026.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari tim tari tradisional SMP Negeri 1 Rambipuji yang membawakan tarian berjudul Rampe Gong. Dengan balutan kostum tradisional yang anggun dan penuh warna, para penari tampil memukau dalam persiapan menuju seleksi FLS3N tingkat Kabupaten Jember.
Tim tari tradisional SMPN 1 Rambipuji didampingi langsung oleh guru Bahasa Inggris, Zainun Agustina, yang selama ini aktif membina dan mendukung kreativitas para siswa di bidang seni budaya. Dalam proses persiapan, para peserta menjalani latihan intensif selama kurang lebih dua bulan demi memberikan penampilan terbaik di ajang FLS3N.
Tarian Rampe Gong yang dibawakan terinspirasi dari budaya dan cerita masyarakat di kawasan Watu Gong, Kali Putih, Rambipuji. Tempat tersebut dikenal sebagai salah satu lokasi yang masih menjaga tradisi dan budaya leluhur hingga saat ini. Masyarakat sekitar dipercaya masih melakukan ritual sederhana dengan memberikan dupa di sekitar batu gong sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui tarian tersebut, para siswa SMPN 1 Rambipuji ingin memperkenalkan nilai budaya lokal kepada generasi muda sekaligus menunjukkan bahwa tradisi daerah masih hidup dan dijaga oleh masyarakat.
Saat proses latihan berlangsung, tampak para penari tampil anggun dan penuh percaya diri. Gerakan yang lembut dipadukan dengan iringan musik tradisional menciptakan suasana pertunjukan yang sarat makna budaya. Kekompakan para penari menjadi hasil dari latihan disiplin yang dilakukan selama berminggu-minggu.
Salah satu penari, Elsyla dari kelas 8G SMPN 1 Rambipuji, mengaku bangga dapat terlibat dalam penampilan tari tradisional tersebut. Ia mengatakan bahwa tarian Rampe Gong merupakan karya yang benar-benar dikreasikan dan diciptakan sendiri oleh tim dari SMPN 1 Rambipuji.
“Tarian ini memang dikreasi sendiri dan diciptakan sendiri oleh SMPN 1 Rambipuji. Kami latihan selama kurang lebih dua bulan untuk mempersiapkan penampilan ini,” ujar Elsyla.
Menurutnya, proses latihan tidak selalu mudah karena membutuhkan kekompakan, konsentrasi, dan penghayatan terhadap cerita yang dibawakan. Namun seluruh tim tetap bersemangat karena ingin memberikan hasil terbaik dan membawa nama baik sekolah.
“Kami latihan hampir setiap hari supaya gerakannya kompak dan bisa tampil maksimal. Walaupun capek, kami tetap senang karena bisa belajar budaya daerah sendiri,” tambahnya.
Guru pendamping, Zainun Agustina, menjelaskan bahwa proses pembuatan tarian Rampe Gong tidak dilakukan secara instan. Sebelum latihan dimulai, tim terlebih dahulu melakukan penelitian kecil dan observasi mengenai budaya Watu Gong agar pesan yang ingin disampaikan dalam tarian benar-benar sesuai dengan nilai budaya masyarakat setempat.
“Kami masih melakukan penelitian dan observasi terkait budaya Watu Gong sebelum menciptakan tarian ini. Jadi anak-anak tidak hanya menari, tetapi juga memahami cerita dan nilai budaya yang ada di dalamnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan siswa dalam proses kreatif menjadi bagian penting dalam pembelajaran seni budaya. Para siswa diajak mengenal sejarah lokal, memahami tradisi masyarakat, hingga menuangkannya dalam bentuk gerakan tari yang kreatif dan menarik.
Menurut Zainun, kegiatan FLS3N menjadi wadah positif bagi siswa untuk mengembangkan bakat sekaligus meningkatkan rasa cinta terhadap budaya daerah. Ia berharap pengalaman ini mampu membentuk karakter siswa yang kreatif, percaya diri, dan bangga terhadap identitas budaya lokal.
“Anak-anak sangat antusias selama latihan. Mereka belajar disiplin, kerja sama, dan bagaimana mencintai budaya daerah sendiri melalui karya seni,” katanya.
Selama proses latihan, para siswa juga mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah dan orang tua. Hal tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi para penari untuk terus berlatih dan memberikan penampilan terbaik dalam seleksi FLS3N tingkat Kabupaten Jember.
Penampilan tari Rampe Gong sendiri memadukan unsur gerakan tradisional dengan sentuhan kreasi modern tanpa meninggalkan nilai budaya aslinya. Gerakan yang harmonis dan ekspresi para penari berhasil menggambarkan suasana sakral serta penghormatan masyarakat terhadap tradisi Watu Gong.
Selain menampilkan sisi artistik, tarian tersebut juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga budaya dan tradisi lokal di tengah perkembangan zaman modern. SMPN 1 Rambipuji ingin menunjukkan bahwa generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap warisan budaya daerah.
Ajang FLS3N tingkat Kabupaten Jember menjadi momentum penting bagi para siswa untuk menunjukkan kreativitas dan kemampuan seni yang dimiliki. Tidak hanya sebagai kompetisi, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi pelajar untuk saling mengenal budaya dari berbagai daerah dan mempererat persaudaraan antar sekolah.
Zainun Agustina berharap semangat berkarya para siswa dapat terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya di Kabupaten Jember. Menurutnya, karya seni yang lahir dari tangan generasi muda mampu menjadi bagian penting dalam membangun daerah.
“Semoga semangat ‘Jember Baru Jember Maju’ bisa tercipta melalui karya-karya siswa seperti ini. Anak-anak memiliki kreativitas luar biasa dan harus terus diberikan ruang untuk berkembang,” ungkapnya.
Ia juga berharap pemerintah dan sekolah terus memberikan dukungan terhadap kegiatan seni budaya di lingkungan pendidikan agar potensi siswa semakin berkembang dan budaya lokal tetap lestari.
Sementara itu, Elsyla mengaku senang karena dapat belajar banyak hal dari proses latihan hingga penampilan tari tersebut. Selain meningkatkan kemampuan menari, ia merasa lebih mengenal budaya daerahnya sendiri.
“Saya jadi lebih tahu tentang budaya Watu Gong dan tradisi masyarakat di sana. Semoga tarian kami bisa disukai banyak orang dan membuat budaya daerah semakin dikenal,” ujarnya.
Dengan persiapan matang selama dua bulan dan semangat besar dari para siswa serta pendamping, penampilan tari tradisional SMPN 1 Rambipuji menjadi salah satu bukti bahwa generasi muda Jember mampu melestarikan budaya melalui kreativitas seni. Melalui ajang FLS3N tahun 2026, diharapkan semakin banyak siswa yang berani berkarya dan mencintai budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia. (hz)